Ada sesuatu
yang menggelitik sekaligus mengganggu pikiranku beberapa bulan ini. Tema khas
perbincangan teman-teman kuliah yang sudah semakin mendekati masa akhir kuliah,
yaitu Munakahad (arab), married (inggris), pernikahan (Indonesia). Iya, tema itu
semakin banyak dibicarakan terutama oleh kaum hawa. Wajar saja, di usia yang
sudah berkepala 2 banyak yang sudah ngebeett pengen banget nikah. Tapi, apakah
itu benar? Mari kita telisik sebentar.
Sebenarnya,
dalam islam pun nikah itu hukumnya wajib dengan kondisi yang sudah siap
tentunya. Siap dalam arti semuanya. Baik secara fisik dan mental.
Usia kuliah
adalah usia PRODUKTIF, oke catat itu. Kita bisa bebas berkreasi di usia
tersebut, bermodal emblem anak kuliahan kita bisa melakukan banyak hal. Mau
keluar negeri gratis, mau seminar murah, bahkan memulai usaha dengan pinjaman
uang yang tak berbunga sekalipun. Asyik kan jadi mahasiswa, tentu saja!
Nikah dulu
atau kerja dulu?
Itu
pertanyaan yang rumit kawan. Nikah itu banyak manfaatnya lho, banyak pahalanya.
Iya benar. Tapi kok Cuma pengen enaknya saja. Haha.. dasar manusia.
Mari kita
lihat sejenak realita kehidupan, usia yang premature dalam pernikahan biasa
membuat sebuah hubungan itu gonjang-ganjing a.k.a banyak cek cok sana-sini.
Memang, dengan bekal agama yang kuat, hal itu bisa *sedikit* dikurangi. Kenapa
pakai bintang? Ya biar bersinar, haha. Eits, bukan gitu. Maksudku walau kita
punya bekal agama yang kuat belum tentu kita bisa menyatukan visi dari kedua
belah pihak lho. Mbok Tanya siapa yang udah berumah tangga, mbok Tanya pak
ustadz sekalian, hehe.
Kembali ke
masalah tadi. Usia kuliah adalah usia PRODUKTIF, usia yang sebaiknya
dipersiapkan untuk menyambut masa depan. Kita tahu kan permasalahan pokok
bangsa ini? Banyak sekali, mulai dari KKN, kriminalitas, kelaparan,
pengangguran, yang ke semuanya bermuara pada satu ujung, yakni kemiskinan.
Nah, tugas
kita sebagai warga Negara yang baik tentunya membela Negara dan membantu
mencarikan solusi permasalahan bangsa. Simpel aja, kalian kuliah dengan
sungguh-sungguh seperti melakukan riset dan melakukan pengabdian ke masyarakat
dengan melakukan pelatihan-pelatihan.
Kalau pas
kuliah aja yang diomongin malah jodoh ya itu masih berkutat dengan ego sendiri
namanya. Apalagi buat mahasiswa yang kuliah di universitas negeri, woey,,
subsidi kalian dari pemerintah itu banyak lho! Kita harus mulai memikirkan apa
itu rasa cinta tanah air, dan apa itu bela Negara. Dan, kalau pas kuliah itu
nikah? Duit dari mana men? Birrul walidain dulu dong! Orang tua mu dulu! Nggak
ada to doa buat suami? Doa buat istri? Doa buat orang tua ada kan? Tuh gimana
coba? Berbakti dulu, nikmati waktu kesendirianmu dengan orang tua. J
Terlebih
buat yang pemeluk islam nih, percuma lho tiap hari bilang memantaskan diri dulu
kek atau tetek bengek lainnya kalau yang dipikiran Cuma jodoh jodoh dan jodoh.
Miris lagi nih buat yang ngakunya sih muslim/muslimah taat, e lha kok pacaran?
Katanya paham pacaran itu zina? Katanya ngaji? Katanya sholat? Hoho. Bukankah
orang itu kalau baik itu cerminan dari sholat yang baik pula ya? Iya, kan?
Sudah, nggak usah dipikirin dalam-dalam tuh soal jodoh. Jodoh ada ditangan
Tuhan, kita nyiapinnya sewajarnya saja. Eh kok, sewajarnya sih? Nanti jodohnya
juga seadanya lho | Lha piye? Protes po mas/mbak? Maksud sewajarnya ya nggak
usah diumbar-umbar di muka publik segala lah, begitu. Penah baca ini di status
atau timeline?
- aaa ku
kangen kamu.
2. Abi kemana e? Umi kangen.*mau abi, mau yayank, bunda, enyak babe, atau apalah, kui ora wangun dab/yu. -_-3. Ya Allah, tolong jaga dia.*hadeh, Allah itu pasti jagain tanpa kamu menyuruhnya bro/sist.4. Yuk kita sama-sama memperbaiki diri biar semakin dekat dengan Allah, cc : @mas**** / @mbak****aduh, megai nek iki. Yaudah, ngajak kebaikan itu universal kalik, nggak usah segitunya, sok iman tapi kok, jiah..
Kalaupun
kita mengagumi seseorang biarkan saja diri kita yang tahu, biarkan saja Angin
yang menyampaikan, insyaAllah.. kalau waktunya tepat juga akan terwujud.
Oke, itu Cuma
opini aku aja. Aku jujur banget, pengen kalau kuliah itu pada ngomongin hal
yang jauh lebih bermanfaat daripada ego kita. Oke?
Udah itu
aja sih, bukannya aku menasihati, aku pun jauh dari kata orang baik, aku masih
sama-sama belajar. Tapi setidaknya, kewajiban muslim yang satu dengan yang lain
itu saling mengingatkan kan?
Yuk,
sama-sama membangun kembali bangsa ini, membangun kembali islam tercinta. Nggak
perlu susah-susah. Kalau anak IT ya semangat bikin program aja. Jangan sampai
kalah sama yang diluar negeri. Semangat ^^9
Bantul, 5
Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar