Aku akan menceritakan sedikit tentang pengalamn hidupku. Aku adalah seorang mahasiswa pendidikan di salah satu PTN di Jogja. Berada di kampus ini adalah pilihan keduaku. Aku sama seperti kebanyakan orang di sini, aku tidak ada niatan sama sekali ke kampus pendidikan. Ya, memang aku pernah bercita-cita ingin menjadi guru waktu aku kecil, tapi setelah aku melewati masa SMP dan aku mengenal dunia luar, cita-cita yang dulu aku inginkan itu aku hapus dari hidupku. Banyak disekitaranku berkeluh kesah tentang profesi guru, entah itu karena gaji yang rendah lah atau karena murid zaman sekarang yang terlampau mainstream lah. Terlepas dari itu semua, aku jadi banyak terpengaruh. Aku tak mau menjadi guru. Aku lebih memiih untuk mendaftar di PTN lain yang bukan pendidikan tentunya. Kebanyakan dari temanku pun begitu, mereka beranggapan sama, kampus pendidikan itu mengerikan, belum besok kalau cuma jadi guru honorer, bakalan makin galau dan nggak laku-laku ya(ah lupakan).
Singkat cerita, aku minta pertimbangan ke keluarga besarku, sebut saja dia paman(eh sama aja). Nah, gobloknya itu kenapa aku tanyanya ke dia, dia kan guru, ya tentu aja dia nyaranin aku jadi guru. Nah, dengan tata cara dia ngomong plus waktu itu aku juga nggak diterima di PTN itu tadi(dulu jalur undangan), aku percaya aja(makin keliatan gobloknya). Aku dengan PDnya daftar ke kampus itu, daaaaaaaaaannnn sesuai dugaanku, aku diterima. Aku seneng banget, tapi sehabis aku ketemu temen-temen, gue langsung lemes, mereka diterima dikampus kece yang gue penginin tadi. Kaya di film 3 idiots,
Singkat cerita, aku minta pertimbangan ke keluarga besarku, sebut saja dia paman(eh sama aja). Nah, gobloknya itu kenapa aku tanyanya ke dia, dia kan guru, ya tentu aja dia nyaranin aku jadi guru. Nah, dengan tata cara dia ngomong plus waktu itu aku juga nggak diterima di PTN itu tadi(dulu jalur undangan), aku percaya aja(makin keliatan gobloknya). Aku dengan PDnya daftar ke kampus itu, daaaaaaaaaannnn sesuai dugaanku, aku diterima. Aku seneng banget, tapi sehabis aku ketemu temen-temen, gue langsung lemes, mereka diterima dikampus kece yang gue penginin tadi. Kaya di film 3 idiots,
"Elu bakalan sedih kalau temen-temen elu punya nasib dibawah elu. Tapi elu bakalan jauh lebih sedih kalau temen-temen elu lebih baik dari elu".
Nah, sehabis itu aku jadi ogah-ogahan deh ngampus ditempat itu. Aku masih terbayang-bayang bagaimana besok kalau udah lulus, aku jadi guru dan honorer? OH GOD WHY? Mau nyari pacar aja susah (eh ini lagi). Dan setengah tahun pun berlalu, muncul deh nilai pertama kuliahku. Jeder, biasa aja nih, temen-temenku cumlaude, aku enggak, dan gue galau lagi. Udah gue cuma dikampus kelas 2 goblok lagi. Nah, habis itu aku masih nggak sadar, terus pas liburan aku manfaatin deh buat nyari buku. Setelah keliling-keliling ternyata nggak ada, mentok deh, aku udah pergi jauh-jauh masa pulang nggak bawa apa-apa. Terpaksa aku asal beli buku, eh ternyata udah tebal nggak ada gambarnya pula. Tapi karena yang belikan itu ibuk, ya udah aku telen tuh buku, walau pas beli buku itu dibilang kuno sama temen saya, katanya sih "ngapain beli buku? Internet aja banyak." Iya ya, bener juga.
Singkat cerita aku udah masuk semester 2. Wah.. nggak terasa udah hampir setahun, nggak terasa juga masih nggak enjoy. Dan apa yang ku bayangkan ternyata nggak sesuram semester 1, semester 2 ini baru keren, kuliah udah mulai masuk ke bidang studynya, ternyata asyik juga ya kuliah nggak perlu bawa bolpoin, nggak ada responsi, nggak ada tuh nulis tangan, cuma ngenet terus pulang. YES!
Petaka terjadi saat bulan memasuki bulan ke 5. Yah, benar. SNMPTN. Aku mau pindah. Namun apes, gue nggak punya uang 150rb buat daftar, terpaksa deh, life must go on, and I will be a teacher. Semester pun hampir habis, aku kuliah cuma bisa trik ngenet sama download patch, OH GOD WHY? Kenapa berakhir begini? Tidak, aku justru menemukan hal lain lewat buku magis pemberian ibuku tadi. Aku sekarang bisa menjawab ocehan temen tadi.
"ngapain beli buku? Internet aja banyak." Dan aku jawab, "ngapain elu sekolah kalau elu bisa nyari ilmu lewat internet. Elu nggak perlu kehujanan dan dimarahin guru kan." Akhirnya nilai pun keluar, alhamdulillah naik, walau tetep nggak cumlaude, aha.
Semester 3 di mulai, yaaakkkkkk! Aku mulai menemukan sebuah keasyikan di kampus ini. Setahun berlalu yang ku anggap sia-sia setelah dipikir-pikir nggak ada ruginya. Malah banyak hal bagus yang aku terima. Dan aku baru sadar(selama setahun) kalau inilah tempatku, tak ada gunanya aku kufur dengan yang Allah berikan. Toh pasti ada hal baik kalau Allah berkehendak. Aku mulai sadar kalau di kampus manapun kita menuntut ilmu asalkan kita punya kemauan, keyakinan, dan usaha pasti kita bisa sukses. Dan kita tidak mesti menjadi guru kalau dibesarkan dikampus pendidikan. Semua tergantung apa yang kita mau. *Aku ngomong gini karena mayoritas anak difakultasku kerjanya merata(walau kampus pendidikan), ada yang diperusahaan, pengusaha, atau malah PNS di daerah, tentunya guru juga banyak. :). Aku *masih* belum mau jadi guru lho ini.
![]() |
| Bersyukur membuat kita lapang |
Nah, baru-baru ini aku ketemu temen SMAku, dia anak sastra, tapi bukan pendidikan. Dia ngebet pengin jadi guru. Dan dia ngasih sebuah film jepang(it isn't not 3gp). Katanya lihat aja nih, bagus lho. Yah.. namanya juga temen, nggak mungkin boong lah. Tapi tetep gue belum mau nonton, twitter dan facebook lebih asyik daripada 5cm atau Habibi dan Habibah (eh salah). Ceritana gini, modemku kan super tuh, lemotnya, daripada aku libur nggak ngapa-ngapain kan sayang, gue terus puter aja nih film. eh, ternyata tentang kisah menjadi seorang guru. Aku masih belum yakin ini film bagus, dan benar saja, ternyata banyak kekerasan di film ini(udah mulai malesin nih). Ehhh, hwaitingg... ternyata enggak, kekerasannya cuma bumbu pelengkap perjuangan menjadi seorang guru. Aku mulai betah nih, :) Toh film luar emang lebih bagus dari film kita kan.
Di film ini(eh ini serial drama sih, ada 3 part per part 12 episode. Terus kenapa gue ngomong film mulu? ) tuh ceritanya si Guru ini anak orang kaya gitu, tapi dia ngebet banget jadi seorang guru. Nah, dia menjadi guru di sebuah SMA swasta dan dia mendapat surprise menjadi homeroom teacher(wali kelas) di kelas 3-D. Dan apa yang terjadi? Kelas itu adalah kumpulan anak-anak nakal, mereka sama sekali tak menghargai seorang guru, bahkan berkelahi di depan guru sampai nantang guru itu biasa banget. Sampai-sampai kepala sekolahnya pun terlanjur menge-Cap anak kelas 3-D itu sebagai murid sampah. Tapi si guru itu tadi mempunyai pandangan berbeda, dia meyakini bahwa muridnya itu semuanya baik cuma salah penanganan saja sehingga mereka jadi sedikit liar. Dia tidak pernah mendapat sambutan ramah dengan murid-muridnya, tapi dia hanya tersenyum saja, dia yakin suatu saat nanti dia akan mampu membawa muridnya menjadi lebih baik.
Ini dia guru, orang yang mampu mentransformasikan dari sisi gelap ke sisi terang. (ilmu yang gue dapet dari mata kuliah ilmu pendidikan) Guru itu bukanlah profesi yang mengejar target nilai semata, atau pula yang cuma mengejar toyota Alphard. Guru adalah pengabdian. Guru orang yang mampu mengubah keadaan muridnya dari yang nakal menjadi baik, dari yang bodoh menjadi pintar. Guru tidak terbatas di ruang kelas saja, guru di manapun kita berada. Tanpa kita sadari, peran guru adalah vital. Kita tidak akan bisa membaca, menulis, dan tidak akan lahir para ilmuwan-ilmuwan jenius. So, kenapa harus takut menjadi guru? Toh, semua orang adalah guru, guru bukan orang yang berada di depan kelas dan menulis KERJAKAN! DAN TUTUP SEMUA CATATAN! tapi guru adalah orang yang mampu mentransformasikan dari sisi gelap ke sisi terang(Transformasi berarti berpindah dan mengubah segalanya).
Ini ada sedikit pesan moral dari film(serial) itu, waktu itu si guru tadi memberi teladan ke muridnya yang selalu menjadi korban bullying disekolah oleh teman-temannya.
Dont wait until someone give you a hand. Being like that you'll continue to be like wimp. People dont extend courtesy and compassion to those not standing up firmly on their own feet. People are not so nice as to lend a hand to those running away all the time. Everyone wants to run away when there's trouble. But if you run away then, that's it, isn't it? Even when something bad happens, you gotta pick yourself up and keep going. Isn't what life is all about? Pick yourself up and face the challenge.
Artinya:
Jangan menunggu sampai seseorang mengulurkan tangan ke anda. Menjadi seperti itu anda akan terus seperti pengecut. Orang tidak memperpanjang kesopanan dan kasih sayang kepada mereka yang tidak berdiri teguh di atas kaki sendiri. Orang-orang tidak akan sudi untuk mengulurkan tangan lagi kepada orang-orang melarikan diri sepanjang waktu. Semua orang ingin melarikan diri ketika ada masalah. Tapi jika Anda lari itu, cuma itu saja bukan? Bahkan ketika sesuatu yang buruk terjadi, Anda harus bangkit dan terus berjalan. Bukankah hidup adalah tentang semuanya? Bangkit dan hadapi tantangan.
Bagus bukan kata-katanya(siap CTRL+C --> CTRL+V --> Update Status nih)? Nah, kayaknya film itu wajib deh ditonton sama semua calon guru, eh semua orang juga. Nama filmnya gokusen, kalau mau nyari di google banyak, hehe.
Sekian
Sekian





